-->

Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Powered by Blogger.

YLBHI LBH Makassar : Darurat Demokrasi, Bebaskan Peserta Aksi Tolak Omnibus Law RUU Cipta Kerja

On 5:07 AM


InspiratorRakyat.Com, Makasar- Aliansi masyarakat sipil, Buruh, dan Pemuda Mahasiswa melakukan aksi demonstrasi di sekitaran Depan Kantor DPRD Sulawesi Selatan, menolak dan menuntut pembatalan pembahasan RUU Cipta Kerja Oleh DPR RI, Kamis, (16/7) dalam Aksi tersebut terjadi tindakan kepolisian dengan melakukan penangkapan dan penahanan terhadap peserta aksi, YLBHI LBH Makassar meminta Peserta Aksi Tolak Omnibus Law RUU Cipta Kerja agar segera di bebaskan, Jum'at 71/07/2020

Dari pantauan langsung YLBHI LBH Makassar dilapangan, setidaknya terdapat 7 aliansi masyarakat sipil, Buruh, dan Pemuda Mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi di sekitaran Depan Kantor DPRD Sulawesi Selatan, dengan isu yang sama yaitu menolak dan menuntut pembatalan pembahasan RUU Cipta Kerja, yang diagendakan hari ini.

Sejak pagi, aksi berlangsung damai. Namun pada sekitar pukul 14.20 wita pihak kepolisian membubarkan peserta aksi secara paksa, dengan menembakkan gas air mata, terutama ke arah salah satu Aliansi yaitu Aliansi Pelajar Mahasiswa Makassar (MAKAR) yang berada di atas Fly Over. Aliansi MAKAR belum sempat bergeser ke Depan DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, karena disana telah dipenuhi oleh Peserta aksi dari Aliansi yang berbeda, yang memang sempat bersitegang dengan pihak keamanan.

Aliansi MAKAR kemudian berlarian diatas Fly Over menghindari asap gas air mata, yang ditembakan secara brutal oleh Kepolisian ke arah massa yang ramai pengendara sedang melintas. Kepolisian kemudian melakukan pengejaran dan penyisiran hingga depan Kampus Universitas Bosiwa dan Universitas Muslim Indonesia, serta lorong lorong sekitarnya. Kepolisian terus melepaskan tembakan gas air mata, hingga masuk ke sekitar perkampungan masyarakat padat di sekitar Universitas Bosowa.

Dari dokumentasi yang diperoleh dari masyarakat telah terjadi represifitas terhadap peserta aksi khususnya dari Aliansi MAKAR, dengan melakukan pemburuan, pemukulan, penangkapan sewenang-wenang dan penyitaan barang pribadi. Sejak tulisan ini diterbitkan, setidaknya data dari pantauan dilapangan dan laporan yang telah dihimpun terdapat sekitar 30-an lebih Pelajar dan atau Mahasiswa yang ditangkap dan atau setidaknya masih dinyatakan hilang, 1 diantaranya adalah Perempuan dan terdapat 2 usia anak. Mereka digelandang ke Kantor Polrestabes Makassar.

Advokat Publik LBH Makassar
Muhammad Ansar mengatakan bahwa tindakan kepolisian ini telah mengancam demokrasi dan menciderai kinerja Institusi Kepolisian. Tindakan tersebut diatas diduga kuat telah melanggar prinsip-prinsip HAM dan Aturan Hukum dalam menjalankan tugasnya, diantaranya :

Pertama, pembubaran paksa peserta aksi oleh Kepolisian diduga kuat telah menciderai hak kebebasan berpendapat dan berekspresi yang dijamin oleh konstitusi sebagaiman yang diatur dalam UUD Pasal 28 ayat 3 yang menyatakan “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat berkumpul dan mengeluarkan pendapat”, UU UU No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum, UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi manusia, dan UU No. 12 Tahun 2005 Tentang ratifikasi Kovenan Hak Sipil dan Politik.

Kedua, Kepolisian dalam menjalankan tugas pengamanan telah mengabaikan terhadap kewajiban dan tanggungjawab dalam memastikan perlindungan Hak Asasi Manusia, mengahargai asas legalitas, menghargai prinsip praduga tidak bersalah dan menyelenggarakan pengamanan. Serta bentuk tindakan yang dilakukan terhadap Peserta aksi kesemuanya telah melanggar pasal 13, 14 dan 24 yang telah diatur dalan Peraturan Kepala Kepolisian (Perkap) No. 09 Tahun 2008 Tentang Tata Cara Penyelenggaraan Pelayanan, Pengamanan, dan Penanganan Perkara Penyampaian Pendapat di Muka Umum

Selain itu tindakan kepolisian melakukan penangkapan dan penahanan terhadap peserta aksi diduga kuat telah melanggar Pasal-pasal yang terdapat dalam Perkap No 08 tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip Dan Standar Hak Asasi Manusia Dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia, terkhusus pada pasal 11 ayat 1 poin a telah ditegaskan bahwa “Setiap petugas/anggota Polri dilarang melakukan penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang dan tidak berdasarkan hukum” tegasnya

Maka berdasarkan pantauan dan informasi, serta bukti-bukti yang diperoleh, YLBHI LBH Makassar mengecam dan mendesak :

1. Mengecam tindakan refresif, penangkapan dan penahanan secara sewenang-wenang terhadap Peserta Aksi yang dilakukan oleh POLRESTABES Makassar;

2. Mendesak POLRESTABES Makassar untuk segera membebaskan seluruh peserta akasi yang ditangkap secara sewenang-wenang dan masih ditahan;

3. Menuntut POLRESTABES Makassar agar tidak melakukan penghalang-halangan pendapingan hukum terhadap mereka yang masih ditahan;

4. Mendesak Kepolisian Republik Indonesia untuk melakukan penyelidikan kepada anggota POLRESTABES Makassar yang melakukan penangkapan sewenang-sewenang

Laporan : Tim Redaksi
Editor : Sahabuddin Jaya

loading...
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »