Subscribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Powered by Blogger.

Kami Umat Islam, Tidak Akan Taklid Ke Kubu Teuku Umar, Gondangdia, Tidak Juga Tunduk Pada Demokrasi. Arah Politik Kami Hanya Islam Menuju Kepada Islam

Diposting oleh On 12:44 AM


Oleh : Nasrudin Joha

Umat Islam dikerdilkan, dipaksa memilih pilihan yang busuk, berada di kubu Gondangdia atau Teuku Umar. Bahkan, dipaksa tunduk untuk Istiqomah mengikuti demokrasi.

Maaf, kami bukan 'Macan Asia' yang bisa cepat berubah menjadi meong hanya karena disuguhi sepiring nasi goreng. Sejak awal, perjuangan kami hanya untuk Islam. Karenanya, kami tak merasa perlu menisbatkan diri pada kubu Teuku Umar, tidak pula perlu taklid menjadi bagian dari kubu Gondangdia.

Mereka, yang berkelindan dibalik kubu Teuku Umar, atau bermanuver dibalik kubu Gondangdia, hanyalah kumpulan hamba dunia yang berebut sekerat tulang dunia yang tidak mengenyangkan. Bertaklid pada satu dari keduanya, sama saja menyerahkan leher kami pada para politisi busuk yang terbukti berulang kali mengkhianati kami.

Kami, juga tidak akan tunduk pada demokrasi dan memaksakan diri untuk ikut alur perubahan melalui mekanisme pemilu atau Pilkada. Kami juga tak terikat menunggu Pilpres 2024 untuk merealisir perubahan. Karena tujuan kami adalah Islam, bukan individu atau tokoh tertentu.

Sebagian dari kami, ada yang telah merasakan sakit yang mendalam karena melabuhkan perubahan kepada makhluk, memimpikan perubahan bersama tokoh tertentu. Saat tokoh itu 'mbalelo', sebagian dari kami telah memperoleh pelajaran yang cukup, untuk segera mendepak dan membuang jauh demokrasi.

Sementara saat ini, kami adalah umat Islam, bukan sekedar umat 212. Kami hanya akan tunduk kepada Islam, terikat dengan rincian perjuangan Islam dan tak akan lagi mau tunduk dan dikhianati demokrasi.

Kami telah menetapkan visi Islam, methode perubahan Islam, dan berharap semata kepada Nasrulloh untuk merealisir kemenangan. Kami cukupkan, keterlibatan kami dalam demokrasi, baik melalui tipu-tipu pemilu, Pilkada apalagi Pilpres. Kami, hanya akan menempuh thoriqoh dakwah Islam.

Kami akan fokus berdakwah, memahamkan umat tentang penegakan syariah secara kaffah, fokus membangun visi khilafah, untuk merealisir misi melanjutkan kehidupan Islam, dengan menerapkan hukum Islam melalui institusi khilafah. Kami akan bangun kembali negara Nabi, sebagaimana dahulu pertama kali Nabi SAW membangunnya di Madinah.

Kami akan fokus membina umat, berinteraksi dengan umat, mengkondisikan opini umum umat, sambil mencari dukungan Ahlul Quwwah, untuk menolong agama Allah SWT. Saat pertolongan tiba, mudah saja bagi Allah SWT untuk menggenapi syarat kembalinya kekuasan Islam, berupa dukungan umat dan ahlul Quwwah untuk menegakan sistem Islam, menegakan Daulah khilafah.

Tentu saja, kami telah siap berkorban untuk itu. Telah menyiapkan diri untuk menjadi juru dakwah, membina dan mendidik umat, agar tak tertipu sistem kufur demokrasi.

Demokrasi, tak pernah menghargai nyawa korban peristiwa 21-22 Mei. Demokrasi, tak memandang berharga 700 nyawa anggota KPPS. Demokrasi hanya peduli pada kursi, kekuasan dan jabatan.

Membelahnya partai menjadi kubu Gondangdia maupun Teuku Umar, itu hanya karena rebutan jatah kursi dan kekuasan. Mereka, para elit itu, tak ada satupun yang memikirkan umat. Mereka, tak peduli pada nyawa korban 21-22 Mei, tidak pula pada nyawa 700 anggota KPPS.

Mereka tidak peduli pada tangis ayah Harun, jeritan keluarga Reyhan, apalagi peduli pada kerabat 700 anggota KPPS. Bagi mereka, demi kekuasan demokrasi menghalalkan siapapun dan berapapun jumlah nyawa sebagai tumbal kekuasaan.

sejak saat ini, siapapun yang masih berharap pada demokrasi, pada individu atau tokoh tertentu, berhalusinasi pada harapan palsu pemilu, Pilpres atau Pilkada, berarti Anda telah membutakan diri. Cukuplah, bagi seorang muslim terantuk batu sekali saja pada lubang yang sama.

loading...
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »